Home // Articles posted by arie

“Klarifikasi Permata Hati”

Artikel ini ditulis untuk meluruskan pemberitaan yang tidak benar mengenai Panti Asuhan Permata Hati Bogor. Ini hanya mencakup sebagian kecil saja berita tertulis diantara banyak sekali pemberitaan tidak benar mengenai panti. Kami tidak mampu membahas satu per satu artikel, namun mudah-mudahan mewakili dan masyarakat dapat melihat sisi lain dari sebuah cerita.

Sumber: http://tempointeraktif.com/hg/kriminal/2010/07/03/brk,20100703-260656,id.html

“KPAI menemukan dua bayi perempuan dan satu bayi laki-laki dalam keadaan sakit, dan 16 anak yang diduga siap dijual”

Klarifikasi:
Mereka tinggal disana sejak lahir, beragam dari usia 3 hingga 12 tahun. Mereka tidak pernah disembunyikan dari masyarakat sekitar, bebas bermain dengan temanya, disekolahkan bahkan guru mereka sesekali mengunjungi panti asuhan untuk berdiskusi tentang pendidikan mereka. Artinya keberadaan anak-anak ini diketahui banyak orang. Semua orang yang berkunjung diperkenankan untuk datang dan berinteraksi dengan mereka. Lalu apakah indikasi bahwa anak-anak ini akan dijual?

Satu bayi yang terindikasi sakit baru berada di panti kurang dari 24 jam sebelum pengrebekan. Bayi ini baru dititipkan orang tuanya 7 hari setelah kelahiran yang proses kelahirannya dibantu oleh dukun beranak sehingga beresiko tinggi bayi kuning. Pemberitaan mengesankan bahwa bayi tersebut sakit diakibatkan oleh perawatan dari pihak panti.

Sumber: http://nusantara.tvone.co.id/berita/view/41257/2010/07/02/kpai_minta_polisi_tindak_pelaku_trafficking_di_bogor/

“Kita coba hubungi dan menjelaskan bahwa tindakan yang dilakukannya menahan bayi melanggar aturan karena hutang adalah hutang tapi hak seseorang untuk memiliki anak tidak boleh dihalangi. Tapi, ibu Dina masih mempertahankan jalannya benar,” tutur Hadi.

Klarifikasi:
Jikalau ini masalah hutang, kenapa seluruh opini diarahkan kepada issue penjualan anak atau trafficking? Lagipula Panti Asuhan Permata Hati adalah tempat yang terbuka. Pihak panti tidak pernah menghalang-halangi Ibu untuk menemui anaknya, bahkan pada dasarnya setiap pengunjung panti diperkenankan berinteraksi dengan anak-anak penghuni panti. Baca bagian ‘Panti mempertanyakan kesungguhan Ibu Diah’ pada artikel http://saveorphan.dagdigdug.com/2010/07/04/save-permata-hatisave-permata-hati/ untuk memahami alasan mengapa panti mempertanyakan biaya kelahiran dan memberikan syarat untuk melibatkan keluarga besarnya.

“Saat dicek lagi ternyata izin panti asuhan sudah habis masa berlakunya pada 2007″

Klarifikasi:
Panti mengantongi izin dari Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat yang berlaku hingga 2011 dan Dinas Sosial Kota Bogor yang berlaku hingga September 2010 (ditandatangani September 2007, masa berlaku 3 tahun)

“Laporan di Dinsosnakertrans ada 120 anak di Panti Asuhan itu, tapi laporan dari pengasuhnya hanya ada 16 anak saja. Kemana perginya anak-anak ini menjadi pertanyaan kita”

Klarifikasi:
Panti adalah yayasan sosial yang juga menyantuni fakir miskin disekitar panti. Data lama yang tercatat di Dinas Sosial yang digunakan sebagai sumber acuan bukan data anak penghuni panti melainkan data orang yang dibawah pembinaan panti termasuk anak yatim piatu disekitar panti, fakir miskin dan kaum jompo. Aktivitas yayasan yang termasuk menyantuni fakir miskin dan lansia terlulis jelas pada plang panti asuhan.

Sumber: http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/metropolitan/10/07/04/123046-kpai-desak-pemkot-bogor-tutup-yayasan-permata-hati

Pihaknya menengarai, terdapat beberapa pelanggaran yang dilakukan oleh pihak yayasan. Antara lain, Permata Hati sebagai yayasan yang teregistrasi di dinas sosial setempat. Hal itu semakin menunjukkan tidak adanya niat baik dari pihak yayasan dalam menangani anak-anak terlantar di Kota Bogor.

Klarifikasi:

Logika yang sulit dimengerti, pelanggaran antara lain Permata Hati sebagai yayasan yang teregestrasi di dinas sosial setempat. Lalu masalahnya apa? Mengapa terdaftar jadi salah? Pelanggarannya dimana? Kalimat selanjutnya yang tidak logis mengatakan hal ini menunjukkan tidak adanya niat baik dari pihak yayasan dalam menangani anak-anak terlantar di Kota Bogor, apa dasarnya?